Gibran Harsingki

Publish: Jum'at, 18 April 2025 (pukul 16.10 WIB)
Penyunting: Divisi Litbang UKM Bengkel Kata


Benarkah Kampus Hanya Mencetak Sarjana Kertas? 


Oleh: Gibran Harsingki
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

 

Bayangkan kita mengirimkan atlet ke olimpiade hanya dengan modal seragam bagus, tanpa latihan intensif dan strategi mumpuni. Hasilnya bisa ditebak: kekalahan telak. Bukankah kampus kita seringkali demikian? Mencetak "atlet" intelektual tanpa membekali mereka dengan "riset" sebagai latihan dan "inovasi" sebagai strategi untuk bertarung di kancah global?. Dilansir dari data Badan Pusat Statistika 2024 terdapat 452.713 lulusan perguruan tinggi yang membanjiri pasar kerja Indonesia. Namun, ironisnya, banyak perusahaan justru kesulitan menemukan talenta yang benar-benar siap menghadapi tantangan dunia industri. Apakah ijazah yang kita genggam hanyalah selembar kertas tak bernilai di tengah persaingan sengit?

Dalam era globalisasi yang semakin kompetitif, kehidupan akademik mahasiswa di Indonesia harus beradaptasi dengan cepat untuk memenuhi tantangan yang ada. Salah satu pilar utama dari adaptasi ini adalah penelitian di perguruan tinggi. Penelitian bukan hanya sekadar sebuah tugas kurikulum, tetapi merupakan kunci utama untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional. Namun, ironisnya, minat mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian tampaknya masih sangat rendah.

Pendekatan dalam membangun minat mahasiswa untuk melakukan penelitian di perguruan tinggi sangat krusial sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing di tingkat global. Penelitian di perguruan tinggi merupakan elemen yang tidak terpisahkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Tanpa penelitian, perkembangan akademik dan inovasi akan stagnan. Penelitian dan publikasi berfungsi sebagai pendorong bagi individu dan institusi untuk bersaing secara efektif dalam arena internasional. Kenyataan ini menjadi semakin mencolok ketika kita mempertimbangkan dampak dari kemajuan teknologi dan fenomena media sosial yang kian menjauhkan mahasiswa dari kegiatan akademik yang substantif. Kesibukan mereka dengan informasi yang banal dari media sosial telah mengalihkan perhatian dari investasi waktu yang lebih berharga untuk membaca dan penelitian yang berbobot.

Namun, fakta menunjukkan bahwa minat mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian masih sangat rendah, dengan tingkat publikasi ilmiah yang hanya mencapai 23,2%, berdasarkan data yang disebutkan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Sains ("Literacies for Urban Life in Smart Cities", 2022). Gelombang informasi yang terus menerus dari media sosial telah mengalihkan perhatian mahasiswa dari kegiatan akademik, mempengaruhi kemampuan mereka untuk berinvestasi waktu dan energi dalam membaca dan penelitian yang substansial. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan literasi akademik di kalangan mahasiswa perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Salah satu solusinya adalah melalui program-program inovatif yang dapat menarik perhatian dan minat mereka dalam penelitian.

Salah satu inisiatif yang patut dicontoh adalah program Smart Imam Bonjol Academic Student International Program (Sibac_Sip) yang diperkenalkan oleh UIN Imam Bonjol Padang. Program ini tidak hanya memberikan pelatihan dalam penulisan ilmiah, tetapi juga pengalaman langsung melalui kunjungan ke beberapa negara. Hal ini menunjukkan bahwa exposure dan praktik langsung adalah elemen penting dalam memperkuat motivasi mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian. Penerapan metode pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini dapat membantu mengubah paradigma mahasiswa dari konsumen informasi menjadi produsen pengetahuan.

Penting bagi institusi pendidikan tinggi untuk membangun kerjasama yang kuat dengan pihak-pihak terkait, termasuk industri dan komunitas global. Dengan melibatkan berbagai stakeholder dalam pengembangan program pendidikan, mahasiswa dapat merasakan manfaat langsung dari penelitian yang mereka lakukan, yang pada akhirnya akan mendorong mereka untuk berpartisipasi lebih aktif. Melalui langkah-langkah ini, perguruan tinggi tidak hanya dapat meningkatkan kualitas penelitian mereka tetapi juga mempersiapkan mahasiswa untuk bersaing di panggung global dengan keterampilan yang relevan dan kompetitif.

Dengan demikian, melalui model literasi yang inovatif dan pendekatan kolaboratif, program-program seperti Sibac-Sip dapat menjadi penggerak utama dalam mendorong minat mahasiswa untuk berkontribusi dalam penelitian. Upaya ini sangat penting untuk meningkatkan status Indonesia di kancah penelitian internasional, dan memperkuat posisi mahasiswa sebagai agen perubahan di era globalisasi ini.

Sebagai penutup, agar Indonesia dapat bersaing di tingkat global, sudah saatnya kita mengangkat tema Go Smart Literacy untuk membangkitkan minat mahasiswa dalam penelitian. Program seperti SIBAC-SIP merupakan langkah awal yang signifikan dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mendukung penelitian, kita tidak hanya meningkatkan jumlah publikasi tetapi juga kualitas sumber daya manusia Indonesia yang siap menghadapi tantangan global.

"Mari kita jadikan penelitian sebagai instrumen perubahan untuk masa depan yang lebih baik”